Timnas U-19, Juara Piala AFF 2013
Beberapa hari setelah hancurnya Hirosima dan Nagasaki, para pemuda, seperti Sukarni, Chaerul Saleh dan Wikana, memanfaatkan celah ini untuk mempercepat kemedekaan Indonesia.
Tepat pada tanggal 16 Agustus 1945, mereka bersama golongan pemuda lain menculik Soekarno dan Hatta, dan membawa mereka ke Rengasdengklok. Terjadi perundingan sengit di sana. Soekarno yang belum yakin bahwa Jepang belum sepenuhnya menyerah terhadap sekutu, meminta para golongan muda untuk tidak terburu-buru. Karena Jepang telah menjanjikan kemerdekaan pada tanggal 24 Agustus 1945– sesuai hasil pertemuan di Dalat, Vietnam.
Naskah proklamasi sendiri dirancang oleh trio Soekarno, Hatta dan Mr. Achmad Soebarjo. Tepatnya di ruang makan rumah Laksamana Tadashi Maeda, Jalan Imam Bonjol No. 1. Lalu diketik dengan mesin ketik pinjaman dari kantor perwakilan angkatan laut Jerman. Dan diproklamirkanlah kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, tepat jam 10:00 pagi.
Bagitulah kiranya “dongeng” sakti yang sering kita dengar dari obrolan sejarah. Paling tidak, dari kisah tersebut menandakan bahwa ada pengaruh besar peran para pemuda dalam merubah bangsanya. Dalam melepaskan bangsanya dari jeratan yang menyiksa jiwa raga, lahir dan batin.
**
Dari zamannya Gendut Doni, Zaenal Arif, Bambang Pamungkas dan Kurniawan Dwi Yulianto masih berseragam timnas, Indonesia memang dikenal sebagai tim yang paling berbahaya. Timnas Indonesia kerap kali memenangi laga penyisihan Piala Tiger– sekarang Piala AFF– dengan skor yang cukup menggetarkan tim lawan yang akan berhadapan dengan Indonesia di laga selanjutnya.
Ketika Piala Tiger 2002, misalnya. Pada pertandingan terakhir penyisihan grup, Indonesia menang telak 5-0 atas Myanmar. Meskipun pada akhirnya kita harus dipecundangi oleh Thailand dengan kalah adu penalti di Gelora Bung Karno.
Dua tahun berikutnya juga demikian. Saat itu Boaz masih menjadi anak muda yang masih berusia antar 17-18 tahun. Dan menjadi tandem paling tajam bersama Ilham Jaya Kesuma. Namun lagi-lagi kita harus kalah dari Singapura di Final dengan Agregat 5-2.
Piala AFF 2010, para fans timnas Indonesia kembali harus menahan sakit hatinya, setelah kalah di final dengan musuh bebuyutannya, Malaysia. Indonesia harus rela menunda gelar juara yang diidamkan setelah kalah agregat 4-2.
Sea Games 2011 pun juga demikian. Kita kalah lagi. Dikalahkan Malaysia lagi. Namun lewat drama adu penalti.
Di tahun 2012, timnas Indonesia sedang dilanda masalah yang diakibatkan oleh para petinggi PSSI yang tidak becus mengurusi persepakbolaan Indonesia. Akibatnya, kita harus menanggung malu setelah gagal lolos fase grup di Piala AFF 2012.
Banyak orang sudah merasa pesimis dengan keadaan persepakbolaan Indonesia. Sebagian hanya bisa mencibir, menuntut, dan melakukan hal-hal menjijikkan seperti tidak bangga dengan timnas atau bahkan dengan negaranya sendiri. Tengok saja situs-situs seperti Youtube, atau portal berita yang menyuguhkan berita sepakbola. Meskipun tidak sedikit yang masih optimis, tapi banyak juga yang saling berkelahi di kolom komentar karena tidak sepaham.
Sebenarnya, wajar saja jika ada yang tidak begitu bangga dengan timnas negaranya sendiri. Permainan timnas, apalagi pasca bobroknya PSSI memang sangat jauh dari kata bagus. Setiap kali ada pertandingan timnas, kita pasti sering sekali melihat bola dari daerah pertahanan sendiri dibuang jauh-jauh ke depan. Terlalu banyak memainkan permainan yang cenderung individual. Dan hasilnya, stamina terkuras habis. Konsentrasi buyar, dan kekalahan pun sudah siap bersetubuh dengan timnas.
Pola permainan yang demikian kerap kali kita lihat di liga domestik. Mungkin tidak terlihat aneh jika kita melihatnya di negara sendiri. Namun ketika kita melihat perkembangan Singapura, Thailand, Malaysia dan juga Vietnam, jelas kita sudah ketinggalan kereta terlalu jauh. Jauh dari kata modern. Dan gaya permainan sepakbola seperti itu sudah terbilang kuno– jika tolok ukurnya adalah sepakbola macam apa yang tim-tim besar Eropa lain mainkan.
Secara kacamata awam, sepakbola modern bisa dideskripsikan sebagai permainan sepakbola yang sederhana. Namun bukan berarti mudah untuk diterapkan. Pergerakan tanpa bola lebih mendominasi daripada pergerakan dengan bola. Seorang pemain harus memiliki kemampuan kontrol dan passing bola yang baik. Serta memiliki kemampuan yang baik dalam penempatan posisi. Tak lupa stamina yang bagus karena seorang pesepakbola modern juga harus mampu dan siap diposisikan di lini manapun.
Praktis akhir-akhir ini secara kasat mata, kita cenderung melihat permainan Indonesia hanya bertumpu pada pemain cepat seperti Andik Vermansyah dan Boaz Salossa– ketika keadaan sedang genting dan menemui jalan buntu. Meskipun sebenarnya bermain sepakbola seperti tim-tim besar Eropa memang sulit.
Untuk menirunya, mereka butuh kerja keras dari nol. Mereka, yang sering kita lihat di liga-liga Eropa adalah hasil dari penanaman orientasi dan karakter bermain sejak masih piyik. Sebut saja Iniesta, Fabregas, Lionel Messi dan Xavi. Mereka adalah hasil didikan dari suatu tempat yang memang benar-benar serius dalam membina bibit muda untuk jangka panjang.
Berbicara soal bibit muda, Indra Sjafri benar-benar serius dalam menyaring pemain muda berbakat Indonesia. Pada tahun 2011, Indra Sjafri melakukan petualangan keliling Indonesia, hingga kedaerah pelosok. 3 hal yang ingin dilakukan oleh Indra Sjafri berserta timnya adalah, pembinaan mental, memotivasi setiap daerah agar merasa dilibatkan dalam pembentukan timnas, dan coaching clinic. Dan dari 49 kota yang ia kunjungi, akhirnya terkumpulah 160 anak emas yang kilaunya masih belum begitu indah.
Singkat cerita, dari hasil petualangannya tersebut, Indra Sjafri sukses besar dalam “usaha pembantaian” timnas U-18 Pakistan dengan skor di luar nalar akal sehat, 25-0. Skor telak yang cukup gila tersebut di dapat dalam Piala Pelajar Asia U-18, namun Indonesia belum mampu membawa gelar juara di turnamen tersebut.
Di awal tahun 2013, usaha Indra Sjafri akhirnya membawa hasil. Timnas U-18 akhirnya menjuarai HKJC International Youth Invitational Tournament 2013, di Hongkong.
Kita tahu bahwa terakhir kali timnas Indonesia mengangkat piala bergengsi ketika Sea Games 1991. Selama 22 tahun timnas hanya bisa menjadi tim yang hanya berstatus sebatas ancaman bagi lawan saja.
Dan sebuah penantian tersebut akhirnya terwujud sudah. Bukan lewat kaki para garuda senior, namun lewat para Garuda Muda yang bermain sepakbola indah. Ketenangan mereka dalam menguasai tempo pertandingan, fisik mereka yang cukup baik, lalu semangat juang yang tidak kenal lelah mereka tunjukkan dalam pertandingan Piala AFF U-19.
Kutukan ini berakhir ketika Ilham Udin Armayin memasukkan tendangan penalti penentu kemenangan Indonesia atas Vietnam, lewat drama adu penalti. Semua orang di Indonesia yang peduli dengan timnas bersorak. Ada yang sujud syukur. Ada yang menangis. Ada yang berpelukan. Ada yang berteriak “INDONESIA!”. Ada yang tidak berhenti bernyanyi. Ada yang tidak berhenti mengganti status twitternya. Semuanya pecah dalam satu malam. Dan membuat Bung Valentino Simanjuntak pun akhirnya menanggalkan sejenak kata JEBRET, dan mengalihkannya untuk mengucap rasa syukur. Tidak hanya bersyukur, ia pun mengambil kutipan dari pahlawan seperti Soekarno dan R.A Kartini. Bahkan derby Manchester pun diabaikan sejenak ketika ketegangan adu penalti sedang berlangsung.
Lagi-lagi para pemuda. Mereka mengubah citra bangsanya lewat kerja keras dan semangat pantang menyerah. Mereka mengubah pendirian sebagian orang yang tidak bangga dengan negaranya sendiri. Mereka mengubah segalanya.
Mereka bermain cukup baik. Permainan bola dari kaki ke kaki yang cukup rapi, kecepatan pemain, hingga koordinasi permainan yang bisa saja mengalahkan timnas senior Indonesia. Di samping itu, kualitas pemain timnas U-19 sangat merata.
Sebut saja nama Evan Dimas, Putu Gede, Ilham Udin dan Ravi Murdianto. Mereka adalah pemain yang memiliki ketenangan dalam menguasai bola. Evan Dimas cukup liar dan hampir menguasai seluruh bagian lapangan. Ilham Udin memiliki kecepatan yang sangat amat baik. Putu Gede juga cukup tenang dan disiplin dalam menjaga pertahanan. Tak lupa Ravi Murdianto yang cukup baik menjaga gawang Indonesia.
Mereka mencatatkan nama Indonesia untuk pertama kalinya sebagai juara turnamen Piala AFF U-19– sejak pertama kali digulirkan tahun 2005. Mereka mencatat sejarah baru dalam persepakbolaan Indonesia yang sudah rindu akan gelar juara.
Paling tidak, ada harapan cerah untuk persepakbolaan Indonesia hingga sekitar 10 tahun yang akan datang. Mereka butuh dibina dengan baik, oleh orang yang baik pula.
Saat ini Jakarta punya Jokowi-Ahok. Di dunia pendidikan, Indonesia punya Anies Baswedan, yang menggelorakan semangat para pengajar muda– yang jumlahnya sekitar 40.200– untuk memajukan kualitas pendidikan di Indonesia. Dan sekarang, harus bersyukurlah kita karena Indonesia memiliki Indra Sjafri.
Sekarang tinggal bagaimana PSSI meredam kebodohan dalam setiap jiwa anggotanya, untuk menjaga dan mengasah kemampuan bibit muda ini agar mampu membawa Indonesia ke peringkat yang lebih baik. Jangan sampai bibit muda ini hilang begitu saja karena kepengurusan yang tidak benar. Karena mereka adalah berlian mahal.
Karena sejarah mengatakan bahwa pemuda sangat berperan besar dalam perubahan bangsa ini.
Indonesia belum habis. Indonesia juga tidak akan berhenti sampai di sini. Indonesia akan terus berjuang untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang besar.
Seperti kata Bung Valentino Simanjuntak yang mengutip kutipan sakti dari Soekarno, “Berikan aku 1000 orang tua, maka akan ku cabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia!”
Ini adalah babak baru untuk para pemuda di seluruh penjuru Indonesia. Mereka sudah berjuang dan mempersembahkan gelar juara. Sekarang tinggal bagaimana kita berjuang dengan cara kita sendiri, dengan bidang yang kita kuasai, agar Garuda tidak hanya bertengger di dahan kering di saat yang lainnya terbang tinggi.
Kita lahir di zaman yang berbeda dengan para pahlawan yang tubuhnya tertembus oleh peluru. Maka berbeda pula bentuk perjuangan yang harus kita lakukan untuk memajuakan bangsa ini.


Komentar