Catatan

Seminggu di awal februari, bulan yang identik dengan kasih sayang. Katanya ? Pikiranku sejenak terdiam, melamun merenungkan kegagalan. Urusan yang berantakan menambah daftar beban dipikiran.

Hidup yang kini mulai berantakan, wajah yang semakin tak karuan, mandi pun jarang membuat tubuh kurus kerempeng yang hanya berbalut kulit coklat sawo matang dilapisi kumis tipis tapi tidak manis, terlihat semakin miris. Proposal yang kini jalan ditempat ditambah persoalan cinta yang semakin tidak tepat. ULALA

Sabar yang tiada akhir, menemukan titik jenuh. Tekad sudah bulat aku harus pergi, meninggalkan bibit yang sempat aku tanam. Tanpa sebiji hasil yang aku dapat.  Aku rela memberi walau itu pahit.

Aku seolah-olah mimpi antara percaya tidak percaya tapi inilah realitasnya, hiruk-pikuk menjadi mahasiswa tingkat akhir. Aku niatkan dengan tulus, aku segera bangkit dan keluar dari keadaan seperti ini. Step by step.

"Aku kadang berandai, jika saja dunia nyata seperti sinetron, seperti apa skenario yang akan di buat oleh sutradaranya, happy ending atau pretending  to be happy".

Tapi aku yakin akan ada segelintir orang yang akan keliru dengan skenario sang sutradara. Yang antagonis sudah jelas berperan sebagai tokoh yang antagonis dan yang baik akan berperan lugu menerima kejahatan antagonis dengan sengaja tidak menyadari kejahatan yang dilakukan sang tokoh antagonis. 

Artisnya memang baik, ya baik. Tata bahasa gak kaku, gestur wajah menyakinkan.  Aktingnya pun tidak diragukan lagi. Luar binasa, eh luar biasa.
Aahhh...kuusir sejenak pikiranku yang menerawang, kuanggap ini hanya sebatas sinetron. Iya sinetron yang terjadi pada aku.

Hening... Lalu moodku mulai memasuki titik normal kupaksakan diriku untuk tersenyum. Dan kuputuskan untuk melanjutkan melihat sinetron itu, walaupun sejujur-jujurnya aku tidak suka dengan sinetron.
Kupandangi sosok aktornya, dia lugu bahkan terlalu cuek dengan persoalan cinta. Dia sadar perasaannya sudah ada untuk seseorang. Bahkan dia sangat sadar perasaanya begitu sayang kepada seseorang. Dia selalu INGAT tentang perasaan, berkat pelajaran yang diberikan...
Tapi ternyata dia yang memberi dia yang mengambil, dia yang berjanji dia yang mengingkari. Perasaan kamu yang kujaga tapi kamu juga yang membiarkan untuk tidak terjaga.  Lalu kupelajari dan terus kepelajari bagaimana perasaan sang aktor itu, sungguh mengharukan.

                                                                 ***
Aku tersadar skenarionya sangat persis dengan kisahku, mataku mulai berkaca-kaca, air mataku sudah menetes terus menetes membasahi pipiku.
Sekarang aku tidak tau sudah berapa banyak tetesan air mata yang jatuh. Akupun tidak tau sudah berapa tetesan rasa sayang aku yang terbuang dari dia.
Aku berusaha bangkit dari kisah ini, kuniatkan perasaanku untuk tidak berurusan lagi dengan perasaanmu. Urusanku yang berantakan saat ini didepan mata. akupun putuskan perasaan saat ini cukup untuk mengurusi hal-hal yang lebih penting ketimbang megurusi perasaanmu . Aku berfikir, aku masih beruntung masih ada banyak orang yang pedulikan aku.
Saat ini memang terlalu sulit aku untuk mengatakan, karena apa ? aku masih saja menjaga perasaanmu, aku tidak ingin perasaanmu terpecah antara aku, dia dan skripsimu. Dan aku sangat menjaga tentang perasaan yang berkali-kali kau ajarkan padaku. Aku masih ingin menjaga tapi perasaanku yang saat ini sudah tidak bisa.
Aku tuliskan perasaanku saat ini aku tidak berharap kamu peduli saat ini bahkan kasian dengan perasaanku, karena pasti hanya aku balaskan dengan senyuman. Saat ini aku tidak kuat lagi menahan sakit. Aku ingin berbagi kesemua orang, biar sakitnya kita rasakan bersama . tapi aku yakin orang tidak mungkin bertahan seperti ini. Beginilah perasaanku saat ini yang kuhadapi dengan tersenyum ;
“Kadang kamu tidak sadar ketika rindu ini berkecamuk di dada ? kadang kamu tidak sadar ketika perasaan ini bergelora di dada ? bahkan kamu tidak sadar ketika sayang ini tergores di dada ? Aku hanya ingin kamu sadar , sekejap tersadar.  Walau rindu ini hanya bisa untuk bergetar.
Kubuka lembaran-lembaran perasaan ini, lalu kusajikan dengan candaan, tawaan. Kamu pun membayarnya dengan senyuman. Itulah cinta, ketika rasa yang tidak biasa menjadi rasa yang luar biasa, akupun sadar itu adalah cinta. 
Aku segera melawan gengsi mengutarakan secepatnya lembaran demi lembaran perasaan ini kepada kamu agar kelak menjadi sebuah harapan. Harapan untuk bersamamu selamanya.
Berawal di hari pahlawan, yang hanya sebatas teman, seolah-olah menjadi pejuang walau hanya sebatas perhatian. Ujung-ujungnya kita pacaran
Tapi kini rasa itu mulai lelah. Sangat lelah....
Rasa yang luar biasa kini menjadi rasa yang biasa-biasa saja.
Cinta yang selama ini tulus mencintai rasa, semakin tidak terasa
Rasa pun semakin tidak tulus dengan cinta.

Aku pergi bukan untuk menghindar, aku pergi bukan untuk menjauh, tapi aku pergi untuk membuka jalan hatiku yang semakin tertutup kepada kamu.

Aku juga heran kamu pergi atas dasar apa ? cinta, sayang, harta dan tahta. Kamu harus tau aku miliki segalanya.  Yang terlalu munafik untuk aku tampakkan.

Aku hanya berpesan, “Jangan pergi dengan orang yang kamu suka dan meniggalkan orang yang kamu sayang” Karena suka itu nafsu dan sayang itu cinta.

Tapi sudahlah aku tetap bersyukur.
Tuhan memberiku hadiah, memiliki dirimu, memiliki hatimu, menjadi kekasihmu. Yang sekarang hanya mimpi semu.

Biarlah kisahmu  untuk dikenang, dan teruskan perjuangan kisahmu untuk menjadi pemenang.



Komentar

Postingan Populer