Asyiknya berpetualang naik Kapal Ferry
Libur semester telah tiba diakhir tahun 2013 kala itu, berawal dari obrolan santai bersama seorang kawan, kami berdua sepakat untuk menghabiskan liburan ini dengan berpetualang. Aku tawarkan destinasi yang kita kunjungi adalah Lombok, Bali dan Jawa dengan catatan semuanya menggunakan jalur laut, ia sepakat walaupun terlihat jelas keraguan di wajahnya.
Perjalanan ini dimulai dari Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar atau lebih dikenal dengan sebutan Pelabuhan Nusantara. Tujuan pertama adalah menuju Pelabuhan Lembar Mataram dengan rute Labuan Bajo - Bima - Lembar dengan modal masing-masing tas carieer di pundak kami bersiap bertualang.
Di kapal penuh sesak, kunikmati saja, Lumba-Lumba di pagi hari, sunset di sore hari. Aku lelah, tertidur di deck kapal di bawah kilauan bintang, seperti itulah 3 hari perjalanan menuju Lombok.
Kurang lebih dua pekan di Lombok, pantai, laut, kuliner dan gunung dijelajahi. Tiba saatnya menuju Pulau Dewata Bali, setelah bertanya-tanya dan mencari informasi akses dari Lombok menuju Bali, pilihan kami jatuh pada Kapal Ferry. Sesuai dengan rekomendasi warga bahwa Kapal Ferry merupakan tranportasi populer di sini.
Kapal Ferry ini merupakan kapal angkutan untuk penumpang, kendaraan dan barang. Kapal ini dikelola oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) (disingkat: ASDP) salah satu BUMN di Indonesia yang bergerak dalam jasa angkutan penyeberangan dan pengelola pelabuhan. Dan sesuai dengan namanya ASDP merupakan Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan. Peran ASDP ini begitu penting bagi keamanan maritim dan kepentingan negara, sebagai negara yang dikenal dengan kepulauan terbesar di dunia, ASDP senantiasa melayani kepentingan pengguna jasa dan kepentingan negara, dari Sabang sampai Merauke dari Talaud hingga Rote terdapat banyak lintasan, pelabuhan dan berbagai jenis Kapal Ferry.
Tiba dipelabuhan, aku langsung membeli tiket seharga Rp. 40.000 menuju Padangbai (Bali). Jangan khawatir jadwal keberangkatan Kapal Ferry 24 jam nonstop, dengan durasi setiap 1 jam berangkat, begitupun sebaliknya. Untuk pembelian tiketnya pada waktu itu belum bisa sistem online, calon penumpang hanya bisa membeli tiket Kapal Ferry di lokasi (pelabuhan). Aku pun bergegas menuju lokasi membeli tiket menuju Padangbai. tapi untuk sekarang pembelian tiket sudah bisa dengan sistem online. Untuk reservasi jadwal dan keberangkatan Kapal Ferry bisa cek di sini. Pelayanan yang semakin mudah dan cepat.
Di atas kapal, aku berbaur dengan barang dan penumpang lain. Kapal Ferry ini memang memuat banyak penumpang, sekali lagi jangan khawatir meski banyak penumpang kita masih terhidar dari sesak dan panas karena seluruh ruangan penumpang menggunakan pendingin ruangan (AC). Fasilitas di Kapal Ferry cukup lengkap dan nyaman, mulai dari bangku penumpang, sofa, apotik, mushalla, ruang baca, cafe dan televisi, semua fasilitas di kapal ini bisa digunakan tanpa biaya lagi (kecuali membeli sesuatu).
Kawanku terlelap, terlentang di lantai ruangan indoor, lantainya begitu bersih di atas dinding ada televisi, beberapa penumpang duduk sambil menonton di ruangan ini. Beberapa penumpang juga menonton sampai tertidur termasuk kawanku yang di sebelahnya ia letakkan ransel besarnya bersebelahan dengan ransel milikku, sejak awal ia memang berkata padaku ia akan tidur jika sudah naik kapal, maklum saja ia dilanda kelelahan berat bertualang kurang lebih dua pekan di Lombok. Berbeda denganku, sepanjang perjalanan sekitar 5-6 jam aku habiskan untuk mengelilingi ruangan kapal, berjalan dari pintu ke pintu, menikmati fasilitasnya hingga akhirnya aku menemukan tempat yang menurutku strategis, di tepi deck, kupasang headset, mendengar lantunan-lantunan lagu kesukaanku di ponsel, tidak lupa kuseruput kopi susu yang telah aku beli di cafe kapal. Aku bersandar di sudut kapal, perasaanku berada di zona nyaman, masih membekas keindahan Rinjani, keasrian Senggigi, lalu membayangkan sunset dan sunrise di Pulau Gili, sambil mengingat-ingat keramahan teman-teman selama di sana. Perjalanan malam hari yang menenangkan di atas Kapal Ferry.
Kapal Ferry perlahan melewati Selat Lombok menuju Bali, sepanjang perjalanan angin sepoi-sepoi dan ombak yang cukup besar. Sorot lampu kapal yang begitu terang berjalan menyusuri Selat Bali, dari sudut tempat duduk ku itu, kuperhatikan aktifitas orang-orang, dari penumpang yang berlalu lalang, bersantai di ruang baca, tertidur di ruang kapal dan anak buah kapal (abk) yang terus bekerja. Kemudian terdengarlah suara pengumuman di seluruh sudut-sudut kapal serta kode-kode teriakan dari anak buah kapal (abk), tandanya kapal sebentar lagi akan bersandar. Aku bersiap-siap dan ku bangunkan kawanku yang sepanjang perjalanan tertidur. Sebenarnya ini pengalaman pertama aku menaiki Kapal Ferry, walaupun sebelumnya aku sudah pernah naik kapal tapi dengan jenis yang berbeda.
Kapal Ferry bersandar aku pun turun, pengalaman pertama menaiki Kapal Ferry, aman dan nyaman. Sebuah tanggung jawab yang terbayar tuntas, kewajiban penumpang untuk membayar tiket terbalaskan dengan pelayanan dan fasilitas yang prima. Inilah sesuatu yang diharapkan, menikmati transportasi laut yang murah dan nyaman, karena pada dasarnya kita sebagai konsumen pengguna tranportasi laut selain mengharapkan harga tiket yang murah, tentunya yang paling utama adalah keselamatan dan kenyamanan dan itu semua aku rasakan setelah menaiki Kapal Ferry.
#AsyiknyaNaikFerry


Komentar